|
Suatu hari, saya melihat seorang anak bermain dengan sapu. Dia lalu menggunakan sapu itu untuk bernyanyi layaknya penyanyi professional. Lucu memang tindakan anak ini, sungguh kreatif. Mengingat kata kreatif, saya ingin tahu sebenarnya apa yang mendasari anak tersebut dapat berpikir kreatif seperti itu. Ternyata yang menggerakannya adalah belahan otak kanan.
Otak kanan identik dengan imajinasi, perasaan emosi, intuisi dan khayalan. Melatih otak kanan secara teratur sangat penting untuk kita agar dapat memecahkan masalah secara benar dan tepat, berfikir bercabang atau dapat menemukan jalan lain secara cepat, menghasilkan ide-ide berkualitas, mampu berpikir jauh ke depan dan pandai menemukan solusi. Jadi sangat hebat kan fungsi dari otak kanan kita ini.
Tetapi sayangnya, fungsi otak kanan amat kurang dioptimalkan oleh sebagian orang. Mereka lebih memberdayakan otak kiri yang menurut penelitian hanya memegang peranan 10-15% dari kemampuan otak manusia (Sisanya sekitar 80-95% adalah otak kanan). Sehingga, terkadang mereka berpikir linier alias satu arah. Tidak dapat memecahkan masalah secara tepat dan mudah putus asa jika mereka tidak bisa menyelesaikannya.
Sebagai contoh, di sekolah, para guru cenderung menekankan pembelajaran yang sifatnya hanya mengasah otak kiri seperti menghitung, menghafal, menulis, padahal pembelajaran seperti itu tidak akan meningkatkan daya pikir anak. Anak cenderung tak berpikir kreatif, hanya mengikuti contoh dan alur yang ada. Salah satu Bapak Motivator, Bpk. Purdi E.Chandra pun memberikan sebuah petuah kepada kita “Sudah saatnya kita mengandalkan otak kanan, meski sebelumnya guru kita lebih banyak mengajarkan otak kiri”. Dalam hal ini, otak kanan cenderung lebih dekat kaitannya dengan praktek + pengalaman dan otak kiri cenderung ke teori.
Oleh karena itu, kembangkanlah otak kanan kita, jangan hanya mengembangkan otak kiri walaupun itu juga penting. Sudah terbukti, orang yang lebih mengandalkan otak kanan lebih sukses dan berhasil dibanding orang yang lebih mengandalkan otak kiri. Contoh konkrit saja, mana yang lebih disukai oleh kebanyakan orang, musisi dengan kreatifitasnya atau professor/dosen? Jawabannya sudah jelas musisi. Mereka lebih banyak fans dibanding dosen walaupun dalam hal ilmu, musis jelas kalah jauh dengan professor.
Berikut ini ada 8 cara yang bisa kita lakukan untuk mengasah dan mengembangkan otak kanan kita (Copas dari seorang Juragan di Kaskus.us). Adalah sebagai berikut:
- 1. Selalu bertanya; “Apakah ada cara lain..??” “Dengan begitu, otak kita dipacu untuk mencari cara alternatif terbaik!”
- 2. Menentang kebiasaan, rutinitas, dan tradisi. “wajar seorang entrepreneur pasti punya latar belakang yang tidak biasa dan menentang tradisi!”
- 3. Memainkan permainan - permainan mental, berusaha melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Contohnya Rubik
- 4. Menyadari bahwa ada lebih dari 1 jawaban yang benar. “Ini gak boleh dilakukan bagi anak SMA yang sedang ujian pilihan ganda! Karena hanya; PILIHLAH SATU JAWABAN YANG BENAR!”
- 5. Melihat masalah sebagai batu loncatan untuk menemukan ide-ide baru. Terus berpikir cara menyelesaikannya dengan berbagai pertimbangan
- 6. Melihat kesalahan dan kegagalan sebagai sarana untuk memperoleh keberhasilan. Jangan mengeluh dan putus asa terus menerus.
- 7 Menghubungkan ide-ide yang tidak berhubungan untuk menemukan solusi yang baru dan inovatif.
- 8. Memiliki “ketrampilan helicopter” yaitu melihat dari atas dan menyeluruh terhadap berbagai hal rutin yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian mengambil keputusan yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.










