Kelas Menengah

Kelas yang sedang mendunia dan mampu mencuri perhatian berbagai kalangan. Ada pergerakan bisnis & investasi dikaitkan dengan kelas menengah, perubahan gaya hidup dikaitkan lagi dengan kelas menengah. Siapa sih sebenarnya mereka? Bagaimana pada akhirnya mereka bisa menjadi tolak ukur atau tumpuan berbagai sektor? Kenapa baru booming sekarang-sekarang ini? Bukannya dari dulu sudah ada kelas menengah? Mengapa mereka bisa cepat bertransformasi seperti sekarang? Saya tertarik menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Tapi saya bukan orang yang ahli membahas hal tersebut. Saya bukan seorang peneliti ataupun penulis buku terkenal. Melainkan hanya ingin share pengetahuan saya dan tertarik untuk mendalami siapa itu kelas menengah. Oleh karena itu, jangan berharap lebih ya apalagi soal sejarah-sejarah kelas menengah. Saya gak mau share hal tersebut karena pastinya itu sudah ada di sumber lain yang lebih akurat. Selamat membaca J

Menurut World Bank : “Kelas menengah adalah kelas dengan rentang pengeluaran perkapita perhari sebesar $2-20”. Ada yang menarik disini, jika dulu mungkin kita mengelompokkan kelas berdasarkan pendapatan & pendidikan mereka, sekarang malah diukur dari pengeluaran. Tapi memang sekarang seperti itu keadaannya, sebagai contoh saja ada orang-orang yang berada di kelas ini rela mengeluarkan uang banyak bahkan dengan bantuan kartu kredit (katanya sih senjatanya kelas menengah) padahal pendapatan mereka kurang dari itu. Bisa dibilang pengeluaran untuk gaya hidup mereka lebih besar dari pendapatan atau pepatah bilang “Besar Pasak daripada Tiang”. Pendapatannya masih kurang dari 5 juta per bulan tapi setiap hari maunya starbuck atau makan siang minimal di restoran padang. Banyak sih dari mereka yang gak seperti itu, banyak yang masih bisa menyisihkan uangnya untuk menabung dan berusaha untuk hemat. Tapi kita sekarang malah mengidentikkan kelas menengah itu kelas yang boros karena mereka seneng banget menjejali toko-toko yang bersifat hedonisme. Mungkin karena mereka merasa bahwa dirinya sudah dapat memenuhi kebutuhan primer maupun sekundernya, jadi kebutuhan tersier lah yang jadi tempat pelabuhan pendapatan berlebih mereka (discretionary income). Café, Convenience Store, Pusat Perbelanjaan, butik yang branded, toko elektronik sampai pameran sekaliber Pekan Raya Jakarta atau Indocomtech adalah contohnya. Mereka jadi tergolong konsumtif dalam hal yang berkesan premium, uptodate dan highclass sehingga membuat mereka percaya diri dan merasa mampu naik kelas. 

Menurut kacamata gua, ini nih sektor-sektor beserta contohnya yang membuat kelas menengah merasa pride-nya akan meningkat :

Fashion : Pergi & berbelanja ke butik branded seperti Zara, Burberry, Hermes, Nautica, dll mulai dari Baju, Celana, Tas, Sepatu, Jam Tangan dll

Beverage : Mengunjungi café seperti Starbucks, bar seperti Difable, convenience store (7eleven,Lawson,Familymart & MOR Store), sampai store ice cream yang premium seperti Magnum Café, Haagen Dazs & Baskin Robbins hampir setiap hari.

Food & Culinary : Mencoba makanan yang baru, unik dan jarang dinikmati kebanyakan orang. Biasanya yang berasal dari luar seperti steak, dessert dan sushi.

Pariwisata : Pergi jalan-jalan keluar kota maupun luar negeri

Pendidikan : Memasukkan anak ke Sekolah Bertaraf Internasional seperti yang sedang menjamur di daerah Tangerang yaitu Global Jaya, Insan Cendekia, Al-Azhar & Islamic Village. Kemudian berkuliah di luar negeri biasanya di Singapura, Australia atau US

Bisnis & Investasi : Memiliki investasi dalam bidang properti, emas maupun deposito

Kesehatan : Mengikuti Gym, kelas yoga, olahraga golf, ikut running, rajin untuk check up dan memilih makanan yang organik

Entertainment & Exhibition: Datang ke konser-konser musik dan event pameran bahkan sampai merogoh kocek dalam

Gadget : Setahun bisa sampai 3x ganti smartphone. Terlebih lagi itu adalah bermerek Apple/Samsung

Social Media : Sharing foto & lokasi di Path, Instagram, Foursquare dan Twitter

Personal Develepment : Ikut seminar, kursus kepribadian dan workshop tentang bisnis dan motivasi

Perfilman : Berlomba-lomba menonton film terbaru (premiere) terutama yang luar negeri dan memang mendapatkan testimoni bagus

Penampilan : Pergi ke salon atau sejenisnya untuk perawatan diri di Klinik Estetika, Spa, Massage, dll

Kendaraan Bermotor : Memiliki mobil sendiri walaupun hanya sekelas av*nza atau ert*ga. Bahkan ada yang sampai memiliki Alphard atau sekelasnya.

Sosial : Melakukan dan mengikuti aksi sosial seperti Go Green, Bike To Work dan komunitas lainnya

Aku Konsumsi maka Aku Ada. Sebuah petikan yang identik dengan kelas menengah. Kaum yang cukup hedonis tapi di lain pihak mereka juga mampu menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi Indonesia karena seperti kita ketahui pertumbuhan ekonomi Indonesia disokong bukan melalui ekspor melainkan konsumsi domestik. Bahkan banyak pengamat mengatakan bahwa “Kelas menengah ini akan menjadi jaminan bagi pertumbuhan ekonomi yang stabil dimasa akan datang”.


Sekian

Kesuksesan Melalui Pemberdayaan Otak Kanan

Suatu hari, saya melihat seorang anak bermain dengan sapu. Dia lalu menggunakan sapu itu untuk bernyanyi layaknya penyanyi professional. Lucu memang tindakan anak ini, sungguh kreatif. Mengingat kata kreatif, saya ingin tahu sebenarnya apa yang mendasari anak tersebut dapat berpikir kreatif seperti itu. Ternyata yang menggerakannya adalah belahan otak kanan.

Otak kanan identik dengan imajinasi, perasaan emosi, intuisi dan khayalan. Melatih otak kanan secara teratur sangat penting untuk kita agar dapat memecahkan masalah secara benar dan tepat, berfikir bercabang atau dapat menemukan jalan lain secara cepat, menghasilkan ide-ide berkualitas, mampu berpikir jauh ke depan dan pandai menemukan solusi. Jadi sangat hebat kan fungsi dari otak kanan kita ini.

Tetapi sayangnya, fungsi otak kanan amat kurang dioptimalkan oleh sebagian orang. Mereka lebih memberdayakan otak kiri yang menurut penelitian hanya memegang peranan 10-15% dari kemampuan otak manusia (Sisanya sekitar 80-95% adalah otak kanan). Sehingga, terkadang mereka berpikir linier alias satu arah. Tidak dapat memecahkan masalah secara tepat dan mudah putus asa jika mereka tidak bisa menyelesaikannya.

Sebagai contoh, di sekolah, para guru cenderung menekankan pembelajaran yang sifatnya hanya mengasah otak kiri seperti menghitung, menghafal, menulis, padahal pembelajaran seperti itu tidak akan meningkatkan daya pikir anak. Anak cenderung tak berpikir kreatif, hanya mengikuti contoh dan alur yang ada. Salah satu Bapak Motivator, Bpk. Purdi E.Chandra pun memberikan sebuah petuah kepada kita “Sudah saatnya kita mengandalkan otak kanan, meski sebelumnya guru kita lebih banyak mengajarkan otak kiri”. Dalam hal ini, otak kanan cenderung lebih dekat kaitannya dengan praktek + pengalaman dan otak kiri cenderung ke teori.

Oleh karena itu, kembangkanlah otak kanan kita, jangan hanya mengembangkan otak kiri walaupun itu juga penting. Sudah terbukti, orang yang lebih mengandalkan otak kanan lebih sukses dan berhasil dibanding orang yang lebih mengandalkan otak kiri. Contoh konkrit saja, mana yang lebih disukai oleh kebanyakan orang, musisi dengan kreatifitasnya atau professor/dosen? Jawabannya sudah jelas musisi. Mereka lebih banyak fans dibanding dosen walaupun dalam hal ilmu, musis jelas kalah jauh dengan professor.

Berikut ini ada 8 cara yang bisa kita lakukan untuk mengasah dan mengembangkan otak kanan kita (Copas dari seorang Juragan di Kaskus.us). Adalah sebagai berikut:
  • 1.     Selalu bertanya; “Apakah ada cara lain..??” “Dengan begitu, otak kita dipacu untuk mencari cara alternatif terbaik!”
  • 2.      Menentang kebiasaan, rutinitas, dan tradisi. “wajar seorang entrepreneur pasti punya latar belakang yang tidak biasa dan menentang tradisi!”
  • 3.          Memainkan permainan - permainan mental, berusaha melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Contohnya Rubik
  • 4.          Menyadari bahwa ada lebih dari 1 jawaban yang benar. “Ini gak boleh dilakukan bagi anak SMA yang sedang ujian pilihan ganda! Karena hanya; PILIHLAH SATU JAWABAN YANG BENAR!”
  • 5.           Melihat masalah sebagai batu loncatan untuk menemukan ide-ide baru. Terus berpikir cara menyelesaikannya dengan berbagai pertimbangan
  • 6.     Melihat kesalahan dan kegagalan sebagai sarana untuk memperoleh keberhasilan. Jangan mengeluh dan putus asa terus menerus.
  • 7      Menghubungkan ide-ide yang tidak berhubungan untuk menemukan solusi yang baru dan inovatif.
  • 8.     Memiliki “ketrampilan helicopter” yaitu melihat dari atas dan menyeluruh terhadap berbagai hal rutin yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian mengambil keputusan yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.

 Sekian. Semoga berguna buat kita semua. Sukses selalu :)

Zona Nyaman




Sebelum ke inti masalah, seperti biasa saya jelaskan apa itu Zona Nyaman (Comfort Zone). Zona nyaman adalah sebuah keadaan dimana seseorang merasa sudah nyaman pada posisinya sekarang atau sudah cukup puas dengan keadaan saat ini, tidak mau memikirkan hal yang lain seperti kemajuannya serta kehidupan di kemudian hari. Mereka yang berada di zona nyaman biasanya sulit untuk berubah karena mereka takut segala kenyamanan (masa santai) dan fasilitas yang telah mereka dapatkan sekarang akan hilang. Padahal belum tentu mereka akan nyaman di kemudian harinya atau di masa tua.

Zona nyaman ini identik dengan seorang karyawan tetapi jangan salah pengusaha juga masih banyak yang berada di zona ini. Terkadang walaupun mereka bertitel pengusaha tetapi sebenarnya semangat, jiwanya dan mindsetnya masih seperti karyawan. Masih banyak orang diluar sana yang merasa bahwa dengan cara santai dan berleha-leha pun mereka masih bisa hidup bahkan menghidupi keluarga mereka. Justru jika dirubah kebiasaan mereka itu bakal menambah pusing dan capek.

Tetapi, menurut saya ada yang perlu dikoreksi disini. Apakah mereka dapat menjamin jika suatu hari nanti mereka bangkrut (untuk para pengusaha),  di PHK (untuk para karyawan), meninggal mendadak dan meninggalkan istri dan anak yang masih kecil, sudah terlampau tua dan lain-lainnya namun mereka masih dapat menghasilkan uang atau minimal punya tabungan yang bisa menghidupi anak dan istri kelak nanti? Jawabannya, Sepertinya tidak, karena mereka hanya memikirkan hari ini dan 1-3 bulan kedepan tanpa memikirkan bagaimana 10 tahun mendatang.

Oleh karena itu, mulai sekarang keluarlah dari zona nyaman kita karena kita tidak akan pernah mengetahui apa selanjutnya masalah serta musibah yang kita hadapi. Kita semua juga tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi. Contohnya terlilit hutang di masa tua. Ayolah bagi para pengusaha teruslah berinovasi, berkreasi, bekerja keras pantang menyerah. Bangun kerajaan bisnis anda secepat mungkin walaupun di masa muda. Kesuksesan itu bukan hanya bisa diraih oleh kaum yang sudah berkepala 4 tapi berkepala 2 saja sudah sangat bisa.

Tak lupa juga bagi karyawan, ayolah tingkatkan produktivitas kalian dan mulailah berpikir untuk berwirausaha sejak dini walaupun kecil-kecilan. Ingat dunia semakin kejam, yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Kita semua tentu ingin jadi yang makin kaya. Untuk itu, ingatlah kata “Kerja Keras” dan ubah mindset zona nyaman anda. Selagi anda muda, masih banyak impian, harapan dan kekuatan yang masih anda miliki. Just do it right now and work hard!. Pepatah selalu menyarankan kita untuk “Berakit-rakit kehulu berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Benar bukan? Sekian dari saya. Sukses untuk kita semua.

It's About Mindset

Mindset? Ya jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah sebuah sistem pikiran atau cara berpikir kita terhadap sesuatu. Selain itu mindset bisa dijelaskan juga sebagai sikap mental yang menetap dan terbentuk melalui pendidikan, pengalaman serta prasangka. Faktor pembentuk inilah yang membuat seseorang bercara pandang, mempunyai kepercayaan, sehingga mereka memakai ini untuk dasar bertindak dan bersikap

Sudah mengerti kawan? Jika sudah, mari kita lanjutkan ke inti masalah. Tanpa basa-basi lagi. Let’s Go!

Indonesia, negara tercinta kita ini memiliki jumlah penduduk dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data penduduk dari Kemdagri, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857 dan mungkin di tahun 2011 ini sudah mencapai angka 260 juta. Namun dalam bidang kewirausahaan, Indonesia masih jauh tertinggal dengan tetangga kita yaitu Malaysia dan Singapura. Jumlah pengusaha di Indonesia secara persentase hanya 0,25% dari seluruh jumlah penduduk. Berarti, hanya sekitar 650ribu orang yang menjadi pengusaha. Sisanya tersebar di sektor lainnya.

Idealnya sebuah negara minimal 2-5 persen dari total jumlah penduduknya adalah pengusaha. Dengan persentase tersebut sebuah negara hampir bisa dipastikan mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Nampaknya akar permasalahannya terletak pada mindset. Loh? Kok nyambung ke mindset? Apa hubungannya dengan mindset? Jawabannya jelas ada.
Ada sebuah mindset yang telah berakar dan mendarah daging. Mindset yang ditanamkan kurang lebih seperti ini bunyinya “Nak, sekolah yang pinter ya terus nanti sekolah yang tinggi supaya dapet posisi yang bagus saat kamu kerja nanti”. Ini berarti kita sekolah tinggi-tinggi untuk jadi pekerja di tempat orang lain. Wejang-wejangan dari orang tua tadi adalah sebuah pembentukan mental pekerja atau istilahnya kerennya “worker mindset”.

Tidak hanya nasehat dari orang tua yang mendarah daging di otak anak. Faktor lain yang turut andil membentuk “worker mindset” ini adalah sekolah perguruan tinggi. Coba kalian lihat, banyak sekolah tinggi yang berpromosi dengan embel-embel “lulus bisa langsung kerja” atau mendapatkan jaminan kerja setelah lulus.  Sehingga para lulusan diarahkan untuk langsung bekerja di tempat orang lain. Kalau begitu, sekolah tinggi pun tidak berbeda dengan halnya SMK. Bedanya mungkin sekolah tinggi, kita memiliki bekal (ilmu) dan pengalaman yang lebih. Tetapi ujung-ujungnya kita diciptakan untuk bekerja dengan orang lain. 

Lalu kapan persentase pengusaha akan meningkat. Itulah sebuah pertanyaan besar untuk bahan renungan kita. Namun, saya yakin seiring sejalan cara berpikir ini akan hilang dan Indonesia akan lebih maju serta melahirkan pengusaha-pengusaha baru yang berkualitas. Walaupun perlu waktu untuk merubah semuanya terutama mindsetnya yaitu dari "Worker Mindset" ke "Entrepreneur Mindset". Amin

Orang Bodoh vs Orang Pintar by Mario Teguh


Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.  Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.  Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.
Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi staf-nya orang bodoh.
Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO.  Walhasil orang-orang pintar ‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Bill gate (Microsoft), Dell, Henry (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Sioe Liong (BCA group).  Adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat (S1), tapi kemudian menjadi kaya.  Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.  Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.


PERTANYAAN :
> Mendingan jadi orang pintar atau orang bodoh??
> Pinteran mana antara orang pintar atau orang bodoh ???
> Mana yang lebih mulia antara orang pintar atau orang bodoh??
> Mana yang lebih susah, orang pintar atau orang bodoh??


KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pintar, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pintar dari pada jadi orang pintar yang bodoh.  Kata kunci nya adalah ‘resiko’ dan ‘berusaha’, karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pintar berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.  Dan mengabdi pada orang bodoh
Dimanakah posisi anda saat ini…?
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.
Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya, lalu perhatikan apa yang terjadi…
Stay Super…..
Salam,
Mario Teguh…

Menurut saya,  dalam hal ini. Si orang bodoh ini walaupun tidak mendapat pendidikan formal tapi dia mau berfikir bagaimana cara agar kekurangannya dalam hal ilmu tidak membatasinya untuk segala hal termasuk berbisnis dan yang terpenting orang bodoh ini adalah orang yang pekerja keras, penuh action dan tanpa keraguan.
Sementara, si orang pintar walaupun dia mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berguna namun dia malas berfikir bagaimana cara agar kelebihannya itu dia pergunakan. Sehingga dia hanya mengikuti arus yang ada kebanyakan. Kurang action, kurang bertindak dan berpikir terlalu panjang atau istilahnya terlalu berhati-hati.
Hal yang perlu kita tanggapi dari fenomena orang bodoh vs orang pintar ini adalah pendidikan formal sampai pada tahap tertentu penting diperoleh. Namun, yang lebih penting adalah proses pembelajaran berkelanjutan yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Selama ini pendidikan formal lebih mengacu pada belajar tentang sesuatu atau yang lebih bersifat teori. Ada perbedaan antara belajar tentang sesuatu dengan belajar sesuatu. Belajar tentang wirausaha berbeda bukan dengan belajar berwirausaha. Jadi tak heran, bila banyak orang berpendidikan tinggi yang tidak sukses di bisnis atau bidang lain karena mereka lebih banyak belajar tentang bukan belajar melakukan. Sama halnya dengan fenomena orang pintar vs orang bodoh. Orang pintar lebih mengandalkan teori sementara orang bodoh lebih mengutamakan praktek.
Saya jadi teringat dengan petuah salah satu bapak motivator saya, Om Bob Sadino. Dia pernah mengatakan demikian:
"Berhentilah sekolah atau kuliah sekarang juga dan start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan"
Selain itu ada fakta kehidupan yang diungkapkan oleh seseorang, bunyinya demikian
"Penguasa uang bukan berasal dari anak yang cerdas dan pintar, tapi mereka yang belajar ilmu kehidupan sejak dini"
Memang ada benarnya juga, inilah dalil yang membuat Om Bob sukses sekarang. Walaupun saya agak kurang setuju dengan pernyataan tersebut karena menurut saya ilmu pendidikan juga tak kalah penting agar kita dapat mencapai segala sesuatu dengan kualitas tertinggi. Om Bob yang mendapat pendidikan sedikit saja bisa berhasil kenapa yang berpendidikan tidak. Itulah yang harus kita renungkan.

Mind & Reality. Diberdayakan oleh Blogger.
Sukses adalah hak semua orang Dengan kekurangan yang kita miliki Bukan berarti kita membatasi hidup Mencapai impian hidup dengan talenta yang dimiliki Adalah sebuah keharusan Majulah "Wira-Wira" Indonesiaku
GATF 2011