It's About Mindset

Mindset? Ya jika diartikan ke bahasa Indonesia adalah sebuah sistem pikiran atau cara berpikir kita terhadap sesuatu. Selain itu mindset bisa dijelaskan juga sebagai sikap mental yang menetap dan terbentuk melalui pendidikan, pengalaman serta prasangka. Faktor pembentuk inilah yang membuat seseorang bercara pandang, mempunyai kepercayaan, sehingga mereka memakai ini untuk dasar bertindak dan bersikap

Sudah mengerti kawan? Jika sudah, mari kita lanjutkan ke inti masalah. Tanpa basa-basi lagi. Let’s Go!

Indonesia, negara tercinta kita ini memiliki jumlah penduduk dengan angka yang cukup tinggi. Menurut data penduduk dari Kemdagri, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857 dan mungkin di tahun 2011 ini sudah mencapai angka 260 juta. Namun dalam bidang kewirausahaan, Indonesia masih jauh tertinggal dengan tetangga kita yaitu Malaysia dan Singapura. Jumlah pengusaha di Indonesia secara persentase hanya 0,25% dari seluruh jumlah penduduk. Berarti, hanya sekitar 650ribu orang yang menjadi pengusaha. Sisanya tersebar di sektor lainnya.

Idealnya sebuah negara minimal 2-5 persen dari total jumlah penduduknya adalah pengusaha. Dengan persentase tersebut sebuah negara hampir bisa dipastikan mengurangi jumlah pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Nampaknya akar permasalahannya terletak pada mindset. Loh? Kok nyambung ke mindset? Apa hubungannya dengan mindset? Jawabannya jelas ada.
Ada sebuah mindset yang telah berakar dan mendarah daging. Mindset yang ditanamkan kurang lebih seperti ini bunyinya “Nak, sekolah yang pinter ya terus nanti sekolah yang tinggi supaya dapet posisi yang bagus saat kamu kerja nanti”. Ini berarti kita sekolah tinggi-tinggi untuk jadi pekerja di tempat orang lain. Wejang-wejangan dari orang tua tadi adalah sebuah pembentukan mental pekerja atau istilahnya kerennya “worker mindset”.

Tidak hanya nasehat dari orang tua yang mendarah daging di otak anak. Faktor lain yang turut andil membentuk “worker mindset” ini adalah sekolah perguruan tinggi. Coba kalian lihat, banyak sekolah tinggi yang berpromosi dengan embel-embel “lulus bisa langsung kerja” atau mendapatkan jaminan kerja setelah lulus.  Sehingga para lulusan diarahkan untuk langsung bekerja di tempat orang lain. Kalau begitu, sekolah tinggi pun tidak berbeda dengan halnya SMK. Bedanya mungkin sekolah tinggi, kita memiliki bekal (ilmu) dan pengalaman yang lebih. Tetapi ujung-ujungnya kita diciptakan untuk bekerja dengan orang lain. 

Lalu kapan persentase pengusaha akan meningkat. Itulah sebuah pertanyaan besar untuk bahan renungan kita. Namun, saya yakin seiring sejalan cara berpikir ini akan hilang dan Indonesia akan lebih maju serta melahirkan pengusaha-pengusaha baru yang berkualitas. Walaupun perlu waktu untuk merubah semuanya terutama mindsetnya yaitu dari "Worker Mindset" ke "Entrepreneur Mindset". Amin

Orang Bodoh vs Orang Pintar by Mario Teguh


Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.  Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.
Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.
Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,sementara itu orang pintar percaya.
Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.  Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.
Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi staf-nya orang bodoh.
Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO.  Walhasil orang-orang pintar ‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Bill gate (Microsoft), Dell, Henry (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Sioe Liong (BCA group).  Adalah contoh orang-orang yang tidak pernah dapat (S1), tapi kemudian menjadi kaya.  Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.  Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.


PERTANYAAN :
> Mendingan jadi orang pintar atau orang bodoh??
> Pinteran mana antara orang pintar atau orang bodoh ???
> Mana yang lebih mulia antara orang pintar atau orang bodoh??
> Mana yang lebih susah, orang pintar atau orang bodoh??


KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pintar, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pintar dari pada jadi orang pintar yang bodoh.  Kata kunci nya adalah ‘resiko’ dan ‘berusaha’, karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pintar berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.  Dan mengabdi pada orang bodoh
Dimanakah posisi anda saat ini…?
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.
Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya, lalu perhatikan apa yang terjadi…
Stay Super…..
Salam,
Mario Teguh…

Menurut saya,  dalam hal ini. Si orang bodoh ini walaupun tidak mendapat pendidikan formal tapi dia mau berfikir bagaimana cara agar kekurangannya dalam hal ilmu tidak membatasinya untuk segala hal termasuk berbisnis dan yang terpenting orang bodoh ini adalah orang yang pekerja keras, penuh action dan tanpa keraguan.
Sementara, si orang pintar walaupun dia mendapatkan sebuah ilmu yang sangat berguna namun dia malas berfikir bagaimana cara agar kelebihannya itu dia pergunakan. Sehingga dia hanya mengikuti arus yang ada kebanyakan. Kurang action, kurang bertindak dan berpikir terlalu panjang atau istilahnya terlalu berhati-hati.
Hal yang perlu kita tanggapi dari fenomena orang bodoh vs orang pintar ini adalah pendidikan formal sampai pada tahap tertentu penting diperoleh. Namun, yang lebih penting adalah proses pembelajaran berkelanjutan yang relevan dengan masalah yang dihadapi. Selama ini pendidikan formal lebih mengacu pada belajar tentang sesuatu atau yang lebih bersifat teori. Ada perbedaan antara belajar tentang sesuatu dengan belajar sesuatu. Belajar tentang wirausaha berbeda bukan dengan belajar berwirausaha. Jadi tak heran, bila banyak orang berpendidikan tinggi yang tidak sukses di bisnis atau bidang lain karena mereka lebih banyak belajar tentang bukan belajar melakukan. Sama halnya dengan fenomena orang pintar vs orang bodoh. Orang pintar lebih mengandalkan teori sementara orang bodoh lebih mengutamakan praktek.
Saya jadi teringat dengan petuah salah satu bapak motivator saya, Om Bob Sadino. Dia pernah mengatakan demikian:
"Berhentilah sekolah atau kuliah sekarang juga dan start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan"
Selain itu ada fakta kehidupan yang diungkapkan oleh seseorang, bunyinya demikian
"Penguasa uang bukan berasal dari anak yang cerdas dan pintar, tapi mereka yang belajar ilmu kehidupan sejak dini"
Memang ada benarnya juga, inilah dalil yang membuat Om Bob sukses sekarang. Walaupun saya agak kurang setuju dengan pernyataan tersebut karena menurut saya ilmu pendidikan juga tak kalah penting agar kita dapat mencapai segala sesuatu dengan kualitas tertinggi. Om Bob yang mendapat pendidikan sedikit saja bisa berhasil kenapa yang berpendidikan tidak. Itulah yang harus kita renungkan.

Mind & Reality. Diberdayakan oleh Blogger.
Sukses adalah hak semua orang Dengan kekurangan yang kita miliki Bukan berarti kita membatasi hidup Mencapai impian hidup dengan talenta yang dimiliki Adalah sebuah keharusan Majulah "Wira-Wira" Indonesiaku
GATF 2011